"Sometimes we laugh at people whom just wearing panties. But, sometimes we will be ridiculed for just wearing panties." (A Glass Wheel)
"When we fall asleep, we unconsciously also smacking down with our bed. It's a natural thing." (Sleep is A Random Habit)
"A selfish boy rejects drug that's a miracle." (Bruce Almighty)
"When we're falling in love, we covered up our feeling so it'll not rise to the surface. Covered it with a patchwork, then stepped on it. When we're falling in love, we just become a very good secret keeper." (When People Falls in Love)
"Like a glass wheel, we can roll perfectly or just broken naturally." (A Glass Wheel)
"The only regret in my life is I am not David Beckham." (Me, Myself, and My Regret)
"Soldiers like my father would only do stuffs if the commander asked them. But, an artist will only do stuffs if our brain asked for." (Follow Your Mind or Just Say "Yes" for An Order)
Rabu, 07 Desember 2011
Selasa, 06 Desember 2011
Tidur Itu Momen Paling Random
Gara-gara si Ronto, aku jadi kepikiran betapa randomnya kita saat sedang tidur. Iya, gara-gara dia bikin blog Saat Seseorang Sedang Tertidur. Blog absurd yg aku bahkan nggak tau motivasinya Ronto apaan pas bikin blog ini. Tapi postingan ini nggak ada hubungannya sama sekali sama blog absurdnya dia. Aku cuman kepikiran sama kata "tidur". Momen paling random yg manusia pernah miliki. Ya, setidaknya ini menurut otak cerdasku.
Saat kita tidur, secara tidak sadar kita juga sering kali sedang ber-smack down ria dengan kasur kita. Menendang, memukul, meremas, dan terkadang kita juga meludahi kasur kita (baca: ngiler). Kadang saat kita sedang tidur, kita juga ditontoni dengan hal-hal aneh berbau film horror Indonesia jaman sekarang. Yap, sisi porno. Dan yg masih ngebuat aku mikir dengan yg satu ini adalah, apakah kita berdosa saat mendapatkan mimpi dewasa ini? Hope not. Saat kita sedang tidur, kita juga akan memanggil-manggil atau mengigau-igau nama seseorang. Seperti yg biasanya ada di film romantis (yg sebetulnya tidak romantis) Indonesia. Si perempuan sedang di rumah sakit, sakit tentunya. Si tokoh pria datang menjenguk. Lalu si perempuan manggil-manggil nama si pria ini. Perempuan ini semacam ingin memesan bakso. Kemudian si tokoh perempuan bangun dan melihat si pria, senyum, kemudian sehat wal'afiat. Naskah yg absurd. Kalau hal seperti ini bisa beneran diterapkan di kehidupan beneran mungkin dokter akan jadi pengangguran bapuk.
Secara tidak sadar, saat kita sedang tertidur, jiwa kita sebenarnya sedang melapor ke Akhirat tentang apa-apa saja yg sudah kita lakukan seharian kemarin. Seperti yg dikatakan guru SD-ku. Jiwa kita pergi, dan katanya bertemu dengan Tuhan atau siapapun untuk melapor. Maha Besar. Di hidup ini, ada milyar-an orang yg juga hidup dan tentunya melapor juga saat raganya tertidur. Bagaimana bisa secepat itu? Aku hanya membayangkan hal absurd seperti, jiwa kita mengantri untuk melapor, dan terkadang jiwa kita bisa terinjak oleh sekumpulan antri yg tidak sabar lagi, kemudian kita mati saat tertidur. Ya, absurd. Atau, jiwa kita mengantri seperti sedang mengantri sembako murah sambil menggenggam kupon di tangan. Berteriak-teriak, saling dorong, dan saling ingin mendahului. Betapa lucunya negri kita saat ada hal semacam ini. Tapi, Akhirat tidak seribet negri kita. Pastinya Tuhan punya cara yg tidak terfikirkan untuk hal yg satu ini dan hal-hal lainnya di hidup kita.
Aku ngetik ini pas barusan bangun tidur, jadi kalau banyak sekali ditemukan kata-kata yg di luar nalar mohon dimaklumi *kembali ke pelukan kasur tercinta*.
Secara tidak sadar, saat kita sedang tertidur, jiwa kita sebenarnya sedang melapor ke Akhirat tentang apa-apa saja yg sudah kita lakukan seharian kemarin. Seperti yg dikatakan guru SD-ku. Jiwa kita pergi, dan katanya bertemu dengan Tuhan atau siapapun untuk melapor. Maha Besar. Di hidup ini, ada milyar-an orang yg juga hidup dan tentunya melapor juga saat raganya tertidur. Bagaimana bisa secepat itu? Aku hanya membayangkan hal absurd seperti, jiwa kita mengantri untuk melapor, dan terkadang jiwa kita bisa terinjak oleh sekumpulan antri yg tidak sabar lagi, kemudian kita mati saat tertidur. Ya, absurd. Atau, jiwa kita mengantri seperti sedang mengantri sembako murah sambil menggenggam kupon di tangan. Berteriak-teriak, saling dorong, dan saling ingin mendahului. Betapa lucunya negri kita saat ada hal semacam ini. Tapi, Akhirat tidak seribet negri kita. Pastinya Tuhan punya cara yg tidak terfikirkan untuk hal yg satu ini dan hal-hal lainnya di hidup kita.
Aku ngetik ini pas barusan bangun tidur, jadi kalau banyak sekali ditemukan kata-kata yg di luar nalar mohon dimaklumi *kembali ke pelukan kasur tercinta*.
Minggu, 04 Desember 2011
#pahitmanis
Inilah hashtag paling dalem yg bener-bener bisa bikin aku galau. #pahitmanis punya Raditya Dika. Bang, engkau memang jagonya. Ini twitnya, yg aku cetak tebal berati yg mungkin udah aku lakuin.
Mengingat cara dudukmu di restoran sore itu, saat kita pertama kali jalan berdua. Mengingat telepon kita, sebelum berpisah. Mengingat rasa penasaran dulu saat membuka SMS darimu. Merasa tersayat setiap kali org melafalkan namamu, setelah kita berpisah. Membekas wajahmu ketika bangun tidur. Menyebut namamu dalam doa. Mengabaikan rasa takut untuk tetap bersama2 kamu. Melihat wajahmu dalam cangkir kopi, pada sebuah senja. Mengubur kenangan kita, yang bahkan belum mau mati. Menirukan cara tawamu. Menjaga tidurmu dari jauh. Menitipkan masa depanku padamu. Merapalkan sihir untuk membuat keinginanmu, menjadi nyata. Menghangatkan genggaman tanganmu. Mendiamkan isak tangismu. Menggemakan bahagiamu. Melukis senyum tipis di bibirmu. Mengucapkan terimakasih, karena telah berpura2 buta melihat kesalahanku. Menunggu wajahmu muncul dalam mimpi. Mengarang cerita kita, dengan akhir yang berbeda. Tertidur di pangkuanmu, pada jalan pulang menuju rumahmu. Seperti biasanya. Menghafal kebiasaanmu. Meneruskan kalimatmu, tanpa sengaja. Dan itulah #pahitmanis cinta.
Langsung galau..
Mengingat cara dudukmu di restoran sore itu, saat kita pertama kali jalan berdua. Mengingat telepon kita, sebelum berpisah. Mengingat rasa penasaran dulu saat membuka SMS darimu. Merasa tersayat setiap kali org melafalkan namamu, setelah kita berpisah. Membekas wajahmu ketika bangun tidur. Menyebut namamu dalam doa. Mengabaikan rasa takut untuk tetap bersama2 kamu. Melihat wajahmu dalam cangkir kopi, pada sebuah senja. Mengubur kenangan kita, yang bahkan belum mau mati. Menirukan cara tawamu. Menjaga tidurmu dari jauh. Menitipkan masa depanku padamu. Merapalkan sihir untuk membuat keinginanmu, menjadi nyata. Menghangatkan genggaman tanganmu. Mendiamkan isak tangismu. Menggemakan bahagiamu. Melukis senyum tipis di bibirmu. Mengucapkan terimakasih, karena telah berpura2 buta melihat kesalahanku. Menunggu wajahmu muncul dalam mimpi. Mengarang cerita kita, dengan akhir yang berbeda. Tertidur di pangkuanmu, pada jalan pulang menuju rumahmu. Seperti biasanya. Menghafal kebiasaanmu. Meneruskan kalimatmu, tanpa sengaja. Dan itulah #pahitmanis cinta.
Langsung galau..
Sabtu, 03 Desember 2011
Manusia Butuh Resolusi Secepatnya
Kalo ditanya kenapa aku ngepost ini, aku bakalan jawab aku lagi bingung. Aku bingung kenapa jadi manusia itu ribet banget. Ribetnya bukan main. Jadi bener kalo aku nulis kalo manusia itu makhluk paling ribet yg pernah diciptakan-Nya.
Aku masih bingung, kenapa setiap orang yg barusan jadian selalu aja di mintain makan-makan? Itu tradisi sejak dinasti apaan? Asli nyusahin banget. Gimana nggak nyusahin coba, kita ini lagi berbunga-bunga trus ada orang yg ngomong, "Eh pj dong, pj." Rasanya langsung pengen nabok orang yg ngomong gitu pake bunga-bunga tadi. Emang makan-makan abis jadian itu wajib apa? Emang kalo nggak ada makan-makan gitu kena pidana apa? Kan, enggak. Kalo emang pj (baca: makan-makan maksa) ini wajib hukumnya, mungkin aku lebih milih jadi jomblo sampe bapuknya ngalah-ngalahin guling di kamarku.
Trus ada juga keribetan manusia yg lainnya. Manusia selalu punya tanggalan-tanggalan dilarang dan dibolehin. Tradisi jawa kuno. Oke ini tahun berapa? Emang di tahun yg udah se-update dan semaju ini masih ada tanggal-tanggal gituan? Kalo sekarang ini masih eranya Joko Sembung yg bawa golok itu ya wajarlah masih mikirin tanggalan gitu. Tapi sekarang ini udah eranya monyet terbang sampe bulan, ndoro. Hal-hal yg begituan udah nggak perlu dipikir lagi. Kan kalo emang udah waktunya kita kecelakaan atau kenapa-kenapa gitu yg nentuin juga Tuhan. Percaya sama hal-hal yg begituan malah bikin kita jadi terlalu hati-hati lho *sok-sokan ceramah* *padahal nggak ngerti*.
Manusia (untuk kasus yg ini, kebanyakan cewek) juga selalu melihat makanan sebagai diet. Bukan berkah. Setiap ditawarin makan eeh langsung jawab, "Nggak makan, lagi diet." Kalo ditanyain kenapa makannya dikit doang jawabnya, "Iya nih, lagi proses diet." Demi persahabatan Spongebob dan Patrick, gimana kalo nggak usah makan sekalian? Gimana kalo makannya nggak usah dimasukin ke mulut sampe perut? Oke, itu berati enggak makan. Gimana kalo nggak usah makan biar mati sekalian aja? Kan kalo udah mati kita nggak perlu mikirin segimana buletnya bentuk perut kita atau segimana gedenya paha kita. Udahlah, makan tinggal makan. Life is so simple, girl. Just enjoy it, divert your eyes from your stomach and eat more and more.
Nah, ini nih yg aku bingung banget betapa ribetnya manusia itu. Manusia selalu ribet buat mikir apa yg harus dia lakuin di malem minggu. Dia pikir, "Kalo nggak main, ntar aku nggak gaul." -______- Emang kalo setiap malem minggu main kamu itu jadi gaul gitu? Kan anak-anak layangan (4LAy) juga pada nanggap wayang pas malem minggu. Jadi mereka itu gaul? Kayak kamu? Atau kamu yg 4LAy? Kayak anak-anak layangan itu? Emang kalo nggak main keluar itu bakalan kenapa juga to? Kan nggak bakalan mati membatu juga kalo kita nggak main. Padahal acara di TV pas malem minggu kan lagi bagus-bagusnya juga. Ada banyak pertandingan bola, EPL-lah, BBVA-lah, ISL juga kan ada. Ada pelem-pelem box office juga yg bisa ditonton secara gratisan. Ya emang bayarnya ke PLN sih. Ya emang kalo yg di TV kudu ikutan nonton iklan-iklan juga sih. Tapi kan nonton pelem bagus.
Sebenernya aku nulis paragraf terakhir di postingan yg satu ini dengan mbatek banget. Ini malem minggu, dan aku nggak main. Kampret. 4QoeHh j4Die3h nG9aK g4HoeLZzz, Q4qA.. Oke cukup jadi 4LAynya. Berati postingan yg ini pembelaan terhadap diri sendiri atas ketidak keluaran pas malam minggu. Sekian.
*now playing: Black Amplifier by The S.I.G.I.T.*
Aku masih bingung, kenapa setiap orang yg barusan jadian selalu aja di mintain makan-makan? Itu tradisi sejak dinasti apaan? Asli nyusahin banget. Gimana nggak nyusahin coba, kita ini lagi berbunga-bunga trus ada orang yg ngomong, "Eh pj dong, pj." Rasanya langsung pengen nabok orang yg ngomong gitu pake bunga-bunga tadi. Emang makan-makan abis jadian itu wajib apa? Emang kalo nggak ada makan-makan gitu kena pidana apa? Kan, enggak. Kalo emang pj (baca: makan-makan maksa) ini wajib hukumnya, mungkin aku lebih milih jadi jomblo sampe bapuknya ngalah-ngalahin guling di kamarku.
Trus ada juga keribetan manusia yg lainnya. Manusia selalu punya tanggalan-tanggalan dilarang dan dibolehin. Tradisi jawa kuno. Oke ini tahun berapa? Emang di tahun yg udah se-update dan semaju ini masih ada tanggal-tanggal gituan? Kalo sekarang ini masih eranya Joko Sembung yg bawa golok itu ya wajarlah masih mikirin tanggalan gitu. Tapi sekarang ini udah eranya monyet terbang sampe bulan, ndoro. Hal-hal yg begituan udah nggak perlu dipikir lagi. Kan kalo emang udah waktunya kita kecelakaan atau kenapa-kenapa gitu yg nentuin juga Tuhan. Percaya sama hal-hal yg begituan malah bikin kita jadi terlalu hati-hati lho *sok-sokan ceramah* *padahal nggak ngerti*.
Manusia (untuk kasus yg ini, kebanyakan cewek) juga selalu melihat makanan sebagai diet. Bukan berkah. Setiap ditawarin makan eeh langsung jawab, "Nggak makan, lagi diet." Kalo ditanyain kenapa makannya dikit doang jawabnya, "Iya nih, lagi proses diet." Demi persahabatan Spongebob dan Patrick, gimana kalo nggak usah makan sekalian? Gimana kalo makannya nggak usah dimasukin ke mulut sampe perut? Oke, itu berati enggak makan. Gimana kalo nggak usah makan biar mati sekalian aja? Kan kalo udah mati kita nggak perlu mikirin segimana buletnya bentuk perut kita atau segimana gedenya paha kita. Udahlah, makan tinggal makan. Life is so simple, girl. Just enjoy it, divert your eyes from your stomach and eat more and more.
Nah, ini nih yg aku bingung banget betapa ribetnya manusia itu. Manusia selalu ribet buat mikir apa yg harus dia lakuin di malem minggu. Dia pikir, "Kalo nggak main, ntar aku nggak gaul." -______- Emang kalo setiap malem minggu main kamu itu jadi gaul gitu? Kan anak-anak layangan (4LAy) juga pada nanggap wayang pas malem minggu. Jadi mereka itu gaul? Kayak kamu? Atau kamu yg 4LAy? Kayak anak-anak layangan itu? Emang kalo nggak main keluar itu bakalan kenapa juga to? Kan nggak bakalan mati membatu juga kalo kita nggak main. Padahal acara di TV pas malem minggu kan lagi bagus-bagusnya juga. Ada banyak pertandingan bola, EPL-lah, BBVA-lah, ISL juga kan ada. Ada pelem-pelem box office juga yg bisa ditonton secara gratisan. Ya emang bayarnya ke PLN sih. Ya emang kalo yg di TV kudu ikutan nonton iklan-iklan juga sih. Tapi kan nonton pelem bagus.
Sebenernya aku nulis paragraf terakhir di postingan yg satu ini dengan mbatek banget. Ini malem minggu, dan aku nggak main. Kampret. 4QoeHh j4Die3h nG9aK g4HoeLZzz, Q4qA.. Oke cukup jadi 4LAynya. Berati postingan yg ini pembelaan terhadap diri sendiri atas ketidak keluaran pas malam minggu. Sekian.
*now playing: Black Amplifier by The S.I.G.I.T.*
Langganan:
Postingan (Atom)